Sabtu, 23 April 2016

Antara Seruan Dan Kenyataan

Setiap peringatan hari bumi pasti selalu diadakan berbagai acara simbolis yang bertemakan hemat energi, lingkungan hidup, kelestarian alam, dampak kemajuan teknologi dan lainya, yang perlu di tumbuhkan juga di kurangi serta di cegah dampak negatifnya. Kemajuan teknologi dan pertumbuhan dunia industri tidak bisa di cegah sejak di temukanya mesin mesin canggih yang sampai dengan saat ini kita bisa saksikan. Salah satu industri yang turut menyumbang emisi serta meningkatnya konsumsi energi adalah industri transportasi. Kendaraan bermotor yang hampir setiap perjalanan kita gunakan tumbuh pesat dan terus menerus bertambah. Tanpa kita sadari setiap hari kita menjadi kontributor penambah sesaknya nafas bumi dan pemangsa energi yang tersedia.
t.co/gwIHWqy0Jq
Salah satu seruan yang paling populer kita dapatkan di perkotaan adalah ajakan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Tidak sedikit pecinta lingkungan maupun pemerintah mengajak kita menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki. Ajakan seperti ini sebetulnya memiliki multi manfaat, Selain dapat mengurangi produksi gas sisa atau karbon, bersepeda dan berjalan kaki, bisa membuat otot tubuh kita ber aktifitas, berkeringat dan ini juga merupakan pengganti olah raga yang sekaligus juga mencapai tujuan lain. Kampanye pemerintah daerah di ibu kota untuk menggunakan kendaraan umum juga merupakan salah satu tindakan yang mengajak kita untuk kembali ke kebersamaan, mengurangi sikap egoisme serta memperbanyak waktu dan kesempatan kita untuk ber interaksi dengan orang lain, yang sebetulnya merupakan kebutuhan pokok kita sebagai mahluk sosial.
http://asalasah.blogspot.com/2013/12/Foto.Puluhan.Lamborghini.dan.Ferari.Melakukan.Konvoi.html
t.co/TrsDEFr7js
Seruan yang baik namun pada kenyataan nya yang masih terjadi saat ini adalah berlomba menggunakan kendaraan pribadi. Penggunaan kendaraan pribadi cenderung menjadi kebanggaan yang di pamerkan. Bahkan anak sekolah pun yang sudah jelas belum layak mengendarai kendaraan bermotor atau tidak memiliki surat ijin mengemudi petantang petenteng mengemudikan mobil. Hingga dengan saat ini kita sudah terbiasa memberikan cap wajar saja untuk hal sedemikian, padahal jika ini terus di biarkan maka akan sangat berbahaya bagi masa depan generasi penerus kita.

Komitmen untuk menggunakan kendaraan pribadi seperlunya saja mesti di mulai dari diri kita sendiri sebagai orang tua. Jangan mentang mentang memiliki kemampuan ekonomi yang mapan kita secara tidak langsung mendidik anak kita untuk melakukan pelanggaran peraturan dan menumbuhkan sikap egoisme kepada mereka, tanpa kita sadari maupun karena memang merupakan kebanggaan diri karena tiada yang mampu melarang.
t.co/1iyhHACx1s
Beberapa waktu ke belakang kita bisa melihat berbagai kejadian dari yang menggenaskan dan memilukan hati hingga ke yang menggemaskan dan memancing emosi, terjadi akibat dari anak di bawah umur yang mengendarai kendaraan pribadi. Di SMP dan SMA sampai dengan saat ini, masihkah kita melihat sederetan mobil siswa dan menyaksikan parkiran kendaraan bermotor penuh dengan kendaraan siswa?. Jika masih tetap ada maka secara sadar ataupun tidak maka tenaga pendidik yang berada pada lokasi tersebut telah mengajarkan anak didikya untuk:
- melakukan pemborosan energi
- melakukan pembiaran terhadap pelanggaran hukum jika siswanya pengendara kendaraan bermotor tersebut tidak memiliki ijin mengemudi
- memupuk sifat riya untuk memamerkan kebanggaanya
Walaupun tiga contoh di atas tidak selalu benar karena masih ada alasan yang menyebabkan hal tersebut masih mendapat kan pemakluman seperti kendaraan umum yang belum memadai, namun apakah hal itu harus terus menerus di biarkan?
http://www.harianjogja.com/baca/2013/12/11/siswa-smp-tanpa-sim-pemilik-rumah-parkir-depan-smp-raup-rp100-000-per-hari-473358
Jika pembaca berkarir sebagai tenaga pendidik atau bertugas di dunia pendidikan bahkan berada pada posisi penegak dan pembuat peraturan untuk hal itu, Apa yang sedang terpikirkan. Tanpa kita bahas lebih banyak lagi, bukankah sudah banyak kejadian yang merugikan, bukankah sudah terasa dampak negatifnya.
www.satuharapan.com
Dalam hal ini sebetulnya pemerintah mengambil tindakan jangka panjang untuk mencarikan solusinya. Di kota besar seperti di jakarta sudah mulai di galakan untuk pengadaan bus sekolah antar jemput pada jam berangkat dan pulang sekolah. memang sih belum merata, namun perlahan program ini terus di tingkatkan baik dalam jumlah fasilitas, prosedur pelayanan dan sisi keamananya.
efekgila.com/7-fakta-gila-seputar-metromini
Di beberapa kota besar termasuk jakarta, kendaraan umum yang menggunakan BBM yang menghasilkan emisi tinggi selangkah demi selangkah mulai di gantikan oleh kendaraan umum yang lebih ramah lingkungan. Salah satu contohnya adalah penyediaan BBG untuk busway oleh PGN dan Bajaj berbahan bakar gas bumi mulai di tumbuhkan di area jakarta.
citraindonesia.com/jokowi-dan-pgn-sepakati-pasokan-gas-transjakarta
Kendaraan dengan bahan bakar gas ini di harapkan mengurangi produksi emisi kendaraaan bermotor. PGN pun sebagai BUMN pengelola jalur distribusi gas bumi terus berpacu melakukan perbaikan demi perbaikan untuk meningkatkan kualitasnya sebagai jalur penerima dan pendistribusi bahan bakar ramah lingkungan.
t.co/bsUtLgRiaT
Jika angkutan umum di kota seperti jakarta ini sudah memadai dan memiliki kenyamanan yang cukup memuaskan nantinya, Akankah kita tetap menggunakan kendaraan pribadi untuk setiap saat? Ataukah kita akan menghitung serta turut berhemat dengan menggunakan kendaraan pribadi seperlunya saja?.
Semuanaya kembali ke pribadi masing masing yang tentunya mempunyai alasan tersendiri. Semoga kita semua dapat memulai secara bijak dalam menggunakan energi dan berpijak baik di bumi ini tanpa mengesampingan kemajuan teknologi.

Tulisan ini disumbangkan untuk situs Si-Nergi

Semoga Sukses Selalu

Sinergi

Sinergi
Seputar Informasi Energi