Minggu, 09 Oktober 2016

Film Sains Waterworld Menggambarkan Tenggelamnya Dunia

Pemerintah saat ini sedang gencar menggerakan program konversi energi dari minyak dan batu bara agar bisa ber alih ke energi baikyang lebih aman bagi lingkungan. Untuk sementara gas bumi, di nilai lebih bersih dan lebih ‘hijau' serta lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar minyak dan batu bara, proses pembakarannya lebih bersih dan menghasilkan lebih sedikit emisi berbahaya ke atmosfer. Pemanfaatan gas bumi dan aneka energi terbarukan yang di seriusin pemerintah di harapkan mampu mengurangi dampak pemanasan global.

Pemanasan global sudah menjadi perhatian dunia, berbagai kalangan mulai dari aktivis lingkungan hingga mereka yang bergerak di dunia hiburan pun, tak pernah lelah menyuarakan tentang akibat dari pemanasan global. Salah satu edukasi tentang dampak pemanasan global, pernah di sisipkan pada sebuah film yang berjudul Waterworld.
Waterworld merupakan film atau cerita fiktif yang bertemakan seputar ilmu pengetahuan, film ini di buat pada tahun 1995. Pokok cerita yang di sampaikan film ini berkisah pada masa depan, ketika es di kutub telah mencair, dan Bumi seluruhnya dilapisi oleh perairan.

Di ceritakan pada film tersebut, ketika daratan semua tenggelam, masih tersisa beberapa kelompok orang yang meyakini bahwa Dryland atau tanah yang kering masih ada. Dalam film Waterworld, diceritakan bahwa manusia yang selamat di kelompokan menjadi empat golongan yaitu :
- Smokers
- Atoll Dwellers atau Penghuni Atol
- Kaum pengembara
- Slaver
Cerita di mulai dengan seorang pengembara yang menukar tanah yang didapatnya untuk mendapat uang. Pengembara ini adalah manusia yang bermutasi genetis hingga seperti mempunyai sirip dan insang, yang juga disebut "Ichthyo Sapiens", atau manusia ikan.

Singkat cerita sang pengembara lautan, bersama sekelompok lainya akhirnya berhasil memecahkan peta di pungguna seorang anak gadis. Setelah itu mereka kemudian menemukan Dryland dan memulai peradaban yang baru di pulau tersebut.

Film Waterworld menurut pendapat saya pribadi, memggambarkan perubahan iklim yang luar biasa, yang membuat es pada kutub bumi memcair dan seluruh daratan yang kita huni menjadi tenggelam. Namun daratan dryland yang di maksud bisa jadi adalah kutub yang selama ini di selimuti es dan tanpa penghuni.

Polusi kemajuan teknologi dan peradapan manusia yang melepaskan ragam polutan, dapat membuat menipisnya atmosfer bumi. Menipisnya atmosfer bumi tentu akan meningkatkan suhu bumi, karena secara logika , tameng pelindung bumi tersebut berfungsi mengurangi efek panas radiasi sinar matahari. Sedikit demi sedikit atmosfer bumi terus menipis, dampaknya yang bisa kita rasakan sekarang adalah bumi ini semakin panas

Dengan menyadari dampak pemanasan global yang juga di gambarkan dalam cerita film Waterworld, sudah seharusnya kita turut berpartisipasi dalam mencegah kerusakan lingkungan yang bisa mempercepat proses pemanasan global.

Konon menurut teori gravitasi jarak bumi dan matahari semakin lama semakin mendekat. Jika saja teori tersebut merupakan kebenaran ilmiah, tentu saja kita tidak mungkin bisa mencegah nya. Akan tetapi yang harus kita lakukan adalah mengurangi dampak kerusakan akibat dari kita yang tak bijak memanfaatkan alam. Ingatlah: adik, anak, cucu, dan keturunan kita, memiliki harapan masih bisa menikmati kehidupan di bumi ini.

Mengenai pemanasan global yang terjadi secara alamiah, mereka mungkin bisa menemukan solusi tepatnya. Jadi mari bijak untuk tidak menguras energi hanya untuk saat ini. Ayo sisakan untuk generasi penerus nanti. Dan tentunya penemuan dan pengembangan berbagai energi baik selalu kita harapkan menjadi energi alternatif pengganti BBM. Walaupun akhirnya cerita film Waterworld bisa saja menjadi kenyataan
Tulisan Ini Di Sumbangkan Untuk Situs si-nergi




Sinergi

Sinergi
Seputar Informasi Energi